Powered By Blogger

Daftar Blog Saya

Cari Blog Ini

Sabtu, 18 September 2010

Sabtu, 27 Maret 2010

Jumat, 05 Februari 2010

Penyakit Demam Berdarah atau Dengue

Penyakit demam berdarah

Demam Berdarah adalah salah satu penyakit infeksi yang serius dan dikenal pula dengan sebutan DBD (Demam Berdarah Dengue). Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus (Indrawan, 2001). Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut (Kristina, dkk, 2005).

Penyakit ini mulanya lebih sering menyerang anak-anak, dibanding orang dewasa ataupun kaum remaja. Tapi kini sudah merata, bisa menyerang siapa saja tanpa batasan usia (Indrawan, 2001). Demam berdarah dapat menyebabkan perdarahan yang hebat dan 30% kasus dapat menyebabkan kematian (Sani, 1999). Secara global di dunia dari 2 miliar orang sebanyak 100 juta terserang Demam berdarah dan sebanyak 100.000 orang mengalami kematian di India DBD menjadi endemi di derah perkotaan maupun pedesaan (Gore, 2005).

Penyebab

Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Menurut para ahli, virus dengue termasuk di dalam grup flavi virus dari famili Togaviridae Serotype (golongan protein darah). Virus ini ada empatb yaitu; DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4. Keempat tipe virus tersebut telah ditemukan di Indonesia antara lain di Jakarta dan Yogyakarta (Indrawan, 2001; Kristina, dkk, 2005).

Gejala

Tanda dan gejala demam dengue menurut Sani (1999) adalah :

1). Panas tinggi

2). Ingusan, batuk, mata merah

3). Sakit kepala, sakit pada daerah sekitar mata, sakit pada tulang belakang, sakit di seluruh persendian dan otot

4). Diare

5). Kemerahan di kulit

6). Depresi

7). Muntah-muntah dan sakit pada daerah perut dalam 2-4 hari kemudian

8). Mimisan, gusi berdarah, bintik-bintik merah di kulit (perdarahan) spontan di kulit, muntah darah, pengeluaran darah dari dubur (kotorannya lembek dan berwarna hitam).

Pada gejala dini demam dengue biasanya sama dengan gejala flu, sehingga sering kali menimbulkan kesalahan karena disangka flu.

Tatalaksana penyakit Demam Berdarah Dengue

Perjalanan penyakit DBD terbagi atas 3 fase (Satari, 2004):

1). Fase demam yang berlangsung selama 2-7 hari

2). Fase kritis/bocornya plasma yang berlangsung umumnya hanya 24-48 jam

3). Fase penyembuhan (2-7 hari)

5. Penularan

Seseorang yang didalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Virus dengue dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap masuk dalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk temasuk di dalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah menghisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi eksentrik). Virus akan tetap berada di dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya (Dinas Kesehatan Propinsi Jateng, 2004).

Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk Aedes aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang. Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia (Kristina, dkk, 2005).

Nyamuk Aedes (Stegomyia) betina biasanya akan terinfeksi virus dengue saat menghisap darah penderita yang berada pada fase demam (viremik) akut penyakit. Setelah masa eksentrik selama 8 sampai 10 hari, kelenjar air liur nyamuk menjadi terinfeksi dan virus disebarkan ketika nyamuk yang infektif menggigit dan menginjeksikan air liur ke luka gigitan pada orang lain. Setelah masa inkubasi pada tubuh manusia selama 3-14 hari (rata-rata 4-6 hari), sering kali terjadi awitan mendadak penyakit itu, yang ditandai dengan demam, sakit kepala, mialgia, hilang nafsu makan, dan berbagai tanda serta gejala nonspesifik lain termasuk mual, muntah, dan ruam kulit (Widyastuti, 2005).

Upaya pencegahan penyakit DBD

Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu (Kristina, dkk, 2005; Soeparmanto, 2000):

a. Lingkungan

Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah.

Sebagai contoh:

1). Menguras bak mandi/penampungan air, sekurang-kurangnya sekali seminggu.

2). Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.

3). Menutup dengan rapat tempat penampungan air.

4). Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya.

b. Biologis

Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).

c. Kimiawi

Cara pengendalian ini antara lain dengan (Kristina, dkk, 2005):

1). Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.

2). Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.

3). Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan “3M Plus”, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, mengolesi tubuh dengan lotion anti nyamuk dan lain-lain.

7. Derajat penyakit DBD

Derajat penyakit DBD diklasifikasikan dalam 4 derajat

a. Derajat I : Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan adalah uji tourniquet.

b. Derajat II : Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan cair.

c. Derajat III : Didapatkan kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab dan anak tampak gelisah.

d. Derajat IV : Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.

Adanya thrombositopenia disertai hemokonsentrasi membedakan DBD derajat I/ II dengan demam dengue. Pembagian derajat penyakit dapat juga dipergunakan untuk kasus dewasa.

Sabtu, 30 Januari 2010


Persahabatan

Dan jika berkata, berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?
Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.

Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.

Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.

Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita; Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya,
untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?

Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan.

Jumat, 29 Januari 2010

Oleh Dr. Togi Asman Sinaga, Mkes

Kesehatan Lingkungan

Berbagai penyakit yang timbul di masyarakat sebenarnya merupakan indikator yang cukup peka dari baik buruknya kondisi kesehatan lingkungan suatu masyarakat. Penyakit-penyakit infeksi seperti diare, TB Paru, radang saluran pernafasan, tetanus, tipus perut, campak, malaria, demam berdarah masuh merupakan penyebab kematian terbesar yakni sebesar 46,8% dari seluruh kematian (Survei rumah tangga tahun 1986). Disamping itu juga masih seringnya terjadi kejadian keracunan di masyarakat.

Penyakit-penyakit tersebut erat kaitannya dengan masalah kesehatan lilngkungan seperti kecukupan akan kebutuhan air bersih, sarana pembuangan kotoran manusia dan limbah atau sampah domestik, sarana perumahan, masalah hygiene makanan, penyemprotan pestisida dan perilaku sehat yang belum memasyarakat.

I. Definisi dan Ruang Lingkup

Kesehatan lingkungan berasal dari dua kata yaitu kesehatan dan lingkungan yang pengertiannya sebagai berikut:

  • Sehat (Menurut WHO)

Adalah suatu keadaan yang baik dari fisik, mental, sosial dan bukan hanya terhindar dari penyakit atau cacat

  • Lingkungan

Adalah segala sesuatu yang berada di alam sekitar baik berupa bahan, kekuatan, kehidupan, zat, yang memiliki potensi menyebabkan penyakit

Dengan demikian Kesehatan Lingkungan adalah:

Ilmu yang mempelajari berbagai masalah kesehatan sebagai akibat dari hubungan interaktif antara berbagai bahan, kekuatan, kehidupan, zat, yang memiliki potensi penyebab sakit yang timbul akibat adanya perubahan lingkungan dengan masyarakat, serta menerapkan upaya pencegahan gangguan kesehatan yang ditimbulkannya.

II. Pokok Pemahaman Kesehatan Lingkungan

Hubungan interaktif antara komunitas (penduduk) dengan perubahan lingkungan yang memiliki potensi bahaya atau menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit dalam lingkup kesehatan lingkungan harus memahami beberapa hal pokok yakni:

a. Paradigma (konsep/model) Kesehatan Lingkungan (dan atau Kesehatan Kerja) yang menggambarkan hubungan-hubungan interaktif antara berbagai komponen lingkungan dengan dinamika perilaku penduduk

PARADIGMA KESEHATAN LINGKUNGAN

Komponen lingkungan yang selalu berinteraksi dengan manusia dan seringkali mengalami perubahan akibat adanya kegiatan manusia atau proyek besar adalah air, udara, makanan, vektor atau binatang penular, manusia sendiri

Perubahan-perubahan yang harus diwaspadai pada dasarnya karena berbagai komponen lingkungan seperti air maupun udara bahkan binatang seperti nyamuk tersebut yang mengandung agen penyakit. Agen penyakit ini pada dasarnya “menumpang” pada vehicle air, udara, dan lainnya.

b. Pemahaman terhadap dinamika atau kinetika perjalanan suatu bahan toksik dan atau faktor penyakit (Fisik, Biologi, Kimia) yang “menumpang” atau berada dalam vehicle atau kendaraan transmisi hingga kontak dengan manusia atau penduduk.

c. Pemahaman terhadap berbagai parameter kesehatan lingkungan (dan atau kesehatan kerja) serta bagaimana mengukur berbagai parameter perubahan atau dinamika hubungan interaktif tersebut.

d. Kemampuan identifikasi (population at risk)

Penetapan population at risk pada dasarnya:

  1. Ditentukan oleh pola kinetika agen yang berada di dalam wahana transmisi
  2. Lokasi pengukuran pemajanan

e. Adanya Standar normalitas

f. Pemahaman terhadap desain studi epidemiologi lingkungan (Metodologi)

Studi epidemiologi lingkungan dapat dikatagorikan ke dalam investigasi studi dalam keadaan endemik

g. Pemahaman terhadap analisis pemajanan

Untuk memperkirakan berapa jmlah population at risk berinteraksi (kontak) dengan komponen lingkungan yang memiliki potensi dampak (yakni yang mengandung agen penyakit) dikenal dengan istilah exposure atau pemajanan)

III. Agen Penyakit dalam Epidemiologi Lingkungan

  1. Agen Fisik

Meliputi radiasi, medan magnit listrik, kebisingan, suhu udara, kelembaban, intensitas suara, getaram panas, cahaya dan lain-lain

  1. Agen Biologi

Terdapat 6 kelompok agen biologis yaitu

    1. Protozoa
    2. Metazoa
    3. Bakteri
    4. Virus
    5. Jamur
    6. Rickettsia

  1. Agen Kimia

Antara lain adalah pestisida, food additive, obat-obatan, limbah industri. Selain itu juga meliputi zat-zat yang diproduksi oleh tubuh sebagai akibat dari suatu penyakit, misalnya pada diabetik asidosis, uremia. Perlu diperhatikan cara transmisi dari agen kimia tersebut sehingga dapat menimbulkan gangguan, yaitu secara:

    1. Inhalasi, terdiri dari zat kimia yang berupa gas (misalnya karbon monoksida), Uap (misalnya uap bensin), debu mineral (misalnya asbestosis), partikel di udara (Misalnya zat-zat Allergen)
    2. Ditelan, misalnya: Minuman keras/alkohol, obat-obatan, kontaminasi makanan, seperti pada keracunan logam berat dan lain-lain
    3. Melalui Kulit, misalnya keracunan pada pemakaian kosmetika atau pada keracunan yang disebabkan oleh racun tumbuh-tumbuhan atau binatang

IV. Penilaian Dampak Kesehatan (Pengukurtan prevensi penyakit)

Penilai dampak atau pemantauan pada manusia merupakan pemantauan dan pengukuran simpul C dan D. Pada dasarnya baik pengukuran maupun pemantauan pada simpul C dan D atau dampaknya pada manusia adalah community based. Dengan demikian, data yang diperoleh dari instansi kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, perlu dipertanyakan validitasnya.

Dibawah ini diuraikan beberapa jenis pemeriksaan pada manusia sehubungan dengan kegiatan epidemiologi kesehatan lingkungan. Pengukuran dampak pada manusia, terdiri dari:

  1. Pengukuran behavior exposure/perilaku penajaman (Simpul C). Hasil akhir pemajanan kemudian dianalisis memberikan gambaran jumlah atau besarnya pemajanan tiap individu.
  2. Pengukuran Bio Indikator atau Bio Marker (Simpul C)

Pengukuran biologik ini adalah merupakan pengukuran dan penilaian tentang substansi tertentu atau dari hasil metabolismenya dalam jaringan, sekresi atau eksresi atau udara nafas (expired air) atau gabungan dari itu untuk mengevaluasi pemajanan dan resiko kesehatan dengan membandingkan terhadap nilai ambang yang tepat.

  1. Pengukuran atau Identifikasi Kasus

Yang dimaksud disini adalah penentuan apakah seseorang merupakan kasus yaitu yang sudah terkena dampak atau belum. Dalam bahasa hukumnya apakah yang bersangkutan merupakan “korban” atau bukan. Penentuan dampak kesehatan, amatlah rumit, karena disamping memerlukan sekumpulan “gejala penyakit” juga kadang memerlukan kemampuan deteksi gejala tersebut (health effect sign) dari tingkat sederhana hingga amat canggih seperti alat-alat tehnik diagnostik.

Beberapa tehnik diagnostik baik yang merupakan pengamatan maupun perabaan memerlukan konsistensi dalam pengukuran. Dengan demikian, haruslah dihindari hal-hal seperti inter dan intra individual variability, inter labolatory variability dan sebagainya.

V. Upaya Pengendalian Vektor

Epidemiologi satu penyakit yang ditularkan oleh vektor memberikan informasi tentang hubungan antara spesies vektor penyakit dan penyebab penyakit (agen) pada manusia atau penjamu lainnya (host) serta faktor lingkungan (environment), khususnya tentang tempat perindukan dan habitat atau tanda-tanda keberadaan suatu vektor penyakit tersebut melangsungkan kehidupannya.

Informasi vektor penyakit mencakup:

- Keberadaan vektor penyakit dan bionomiknya

- Kuantifikasi tingkat kepadatan dan atau kontak antara manusia dengan vektor penyakit

- Keberadaan dan penyebaran organisme penyakit yang meliputi parasit atau bakteria atau virus pada vektor penyakit

- Tingkat kesakitan penyakit yang ditularkan oleh vektor penyakit

- Status kerentanan dan reservoir terhadap pestisida

Teknologi Pengendalian Vektor penyakit

Pada dasarnya teknik pengendalian vektor penyakit dibedakan dalam cara-cara fisik atau mekanis, cara kimiawi dan cara biologi. Oleh karena keberadaaan vektor penyakit sangat erat kaitannya dengan lingkungan fisik dalam perkembangannya pengendalian vektor penyakit secara fisik atau mekanik dikelompokkan menjadi cara pengelolaan lingkungan. Cara biologi tidak digabungkan dengancara pengelolaan lingkungan karena cara biologi lebih mengembangkan tehnik-tehnik biologi dalam pengendalian vektor penyakit ketimbang tehnik pengelolaan lingkungan yang lebih megedepankan aplikasi tehnik sipil dan tehnik penyehatan/lingkungan dalam cara-cara pengendalian vektor tersebut.

Karena itu, dewasa ini teknologi pengendalian vektor penyakit dibedakan menjadi teknologi pengendalian vektor penyakit secara kimiawi, teknologi pengendalian vektor penyakit secara biologi, teknologi pengendalian vektor penyakit dengan penerapan tehnik lingkungan.

Pendekatan Pengendalian Vektor Penyakit

1. Pengendalian Vektor Penyakit secara terpadu (Integrated Vector Control). Penerapan berbagai teknologi pengendalian vektor penyakit pada suatu program pengendalian vektor atau program pemberantasan penyakit menular dalam pelaksanaannya tidak dilakukan secara sendiri-sendiri seperti dilakukan dirumah, akan tetapi sekaligus dalam tempo bersamaan diterapkan lebih dari satu tehnik pengendalian vektor penyakit. Misalnya dalam rangka pengendalian penyakit demam berdarah dengue (DBD); terhadap nyamuk dewasa dilakukan pengasapan (Fogging) dengan malathion sedangkan untuk jentiknya dilakukan pemberantasan jentik (Larvaciding) dengan pestisida Temephos, juga dilakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dikenal dengan 3M yaitu menguras bak mandi, menutup tempat-tempat persediaan air di rumah dan mengubur wadah yang sudah tidak terpakai lagi.

Pendekatan tersebut dikenal dengan pengendalian vektor secara terpadu (Integrated Vector Control), suatu penerapan cara-cara pengendalian vektor secara terpadu untuk memberantas suatu jenis penyakit tertentu.

2. Pengendalian vektor penyakit secara komprehensif (Komprehensive Vector Control). Pendekatan ini merupakan upaya pengendalian vektor penyakit yang memberantas vektor penyakit-penyakit yang ditularkan oleh vektor sesuai dengan kondisi atau keberadaan penyakit-penyakit yang ditularkan vektor di daerah tersebut yang penyelenggaraannya terpadu dengan sistem pelayanan kesehatan di tingkat akar rumput (primary health care). Bagi kecematan yang telah memiliki “Klinik Kesehatan”, pelaksanaan comprehensive Vector Control dapat dimulai dari klinik sanitasi.

Pendekatan ini lebih mengedepankan pengelolaan lingkungan (Modifikasi dan manipulasi lingkungan) ketimbang tehnikk-tehnik pengendalian lainnya dengan menggali dan menerapkan teknologi tepat guna dalam pengendalian vektor penyakit. Pendekatan ini merupakan konsep baru dalam pengendalian vektor penyakit yang tidak lagi terfokus pada pemberantasan suatu jenis penyakit menular saja. Karenanya memerlukan perencanaan yang matang dan surveilans vektor yang cermat.

VI. Kebijaksanaan Teknis Pengendalian Vektor sebagai berikut:

  1. Pengendalian vektor penyakit diutamakan pada daerah endemis penyakit yang ditularkan oleh vektor penyakit di daerah perkotaan dan pedesaan
  2. Pemberdayaan masyarakat diarahkan untuk kemandirian masyarakat dalam pengendalian vektor penyakit
  3. Upaya pengendalian vektor penyakit diutamakan pada kegiatan pengelolaan lingkungan berdasarkan bukti keberadaan vektor penyakit di lingkungan itu
  4. Pengendalian vektor penyakit menggunakan dan mengkaji cara-cara dan bahan yang tepat guna terdapat di masyarakat setempat
  5. Pemerintah berperan dalam mengarahkan upaya pengendalian vektor penyakit di masyarakat di samping menanggulangi keadaan darurat vektor
  6. Peningkatan profesionalisme petugas pengendalian vektor penyakit pemerintah maupun swasta

VII. Analisis Situasi

1. Keadaan dan Masalah

Masalah vektor penyakit di propinsi DKI Jakarta ditandai dengan:

- Masih tingginya tingkat kesakitan penyakit-penyakit yang ditularkan oleh vektor penyakit

- Munculnya kembali penyakit yang ditularkan oleh vektor penyakit di suaru daerah yang semula telah dapat dikendalikan

- Makin bertambahnya daerah kota yang terjangkit penyakit yang ditularkan vektor penyakit dimana pada mulanya belum pernah terjadi

- Masih terjangkitnya penyakit yang ditularkan vektor penyakit pada binatang penjamu, yang dimungkinkan menulari penduduk di daerah tersebut.

- Masih terjadinya penyakit ditularkan oleh vektor penyakit di daerah endemis, namun vektor penyakitnya belum tertangani

2. Faktor Resiko

Beberapa permasalahan yang merupakan faktor resiko dalam pengendalian vektor penyakit adalah:

- Perubahan lingkungan fisik oleh kegiatan-kegiatan pertambangan, pembangunan perumahan, dan industri menyebabkan timbulnya tempat berkembangbiaknya vektor penyakit (man made breading places)

- Pembangunan bendungan akan beresiko berkembangbiaknya vektor penyakit

- Sistem penyediaan air dengan perpipaan yang belum menjangkau seluruh penduduk sehingga masih diperlukan container untuk penyediaan air

- Kemajuan di bidang transportasi beresiko meningkatkan jangkauan dan frekwensi penyebaran vektor penyakit, belum dipatuhinya ketentuan tentang kualitas dan teknis bangunan beresiko timbulnya tempat perindukan vektor penyakit di sekitar bangunan

- Sistem drainase pemukiman dan perkotaan yang tidak memenuhi syarat sehingga menjadi tempat perindukan vektor penyakit

- Sistem pengelolaan sampah yang belum memenuhi syarat menjadikan sampah sarang vektor penyakit

- Perilaku sebagian masyarakat dalam pemulihan lingkungan yang aman masih belum memadai

- Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dalam pengendalian vektor penyakit secara kimiawi beresiko timbulnya keracunan dan pencemaran lingkungan serta timbulnya resistensi pestisida terhadap pengendalian vektor penyakit

Program Pengendalian Vektor Penyakit

Untuk menanggulangi masalah dan faktor-faktor resiko yang telah diuraikan terdahulu maka dirumuskan kegiatan sebagai berikut:

1. Surveilans Vektor Penyakit

Informasi vektor penyakit mencakup:

  1. Keberadaan vektor penyakit dan bionomik
  2. Kuantifikasi tingkat kepadatan dan atau kontak antara manusia dengan vektor penyakit
  3. Keberadaan dan penyebaran organisme (parasit atau bakteria atau virus) pada vektor penyakit tersebut.
  4. Tingkat kesakitan penyakit yang ditularkan vektor penyakit
  5. Status kerentanan vektor penyakit dan reservoir terhadap pestisida

2. Proteksi Diri terhadap Vektor Penyakit, adalah upaya perlindungan diri sendiri, keluarga atau sekelompok orang yang tinggal atau bekerja bersama terhadap vektor penyakit. Termasuk dalam tindakan ini adalah pencegahan terjadinya kontak antara tubuh dengan vektor penyakit dan tindakan untuk mencegah masuk, singgah, dan berkembangbiaknya vektor penyakit di dalam atau di sekitar rumah. Kegiatan ini umumnya sederhana serta tidak mahal dan seringkali dapat dilakukan oleh masyarakat tanpa bantuan petugas kesehatan.

3. Sanitasi Lingkungan

Sanitasi lingkungan mencakup pengelolaan sampah, limbah cair, termasuk tinja dan sanitasi rumah yang ditujukan untuk mencegah kehadiran vektor penyakit

4. Manipulasi Lingkungan

Adalah suatu upaya pengelolaan lingkungann yang meliputi kegiatan yang terencana yang bertujuan untuk mengubah kondisi sementara yang tidak menguntungkan bagi perkembangbiakan vektor penyakit pada habitatnya. Sebagai contoh adalah pengubahan kadar garam, penggelontoran, pengaturan permukaan air waduk, pembersihan tanaman, peneduhan dan pengeringan rawa.

5. Modifikasi Lingkungan

Adalah upaya pengelolaan lingkungan yang meliputi perubahan fisik yang bersifat permanen terhadap lahan, air dan tanaman yang bertujuan untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi habitat vektor penyakit tanpa menyebabkan terganggunya kualitas lingkungan hidup manusia. Termasuk kegiatan ini adalah drainase, penimbunan tempak perindukan vektor penyakit berupa genangan air.

6. Pengendalian vektor penyakit secara biologis

Adalah pemanfaatan organisme hidup atau produknya untuk mengendalikan vektor penyakit. Termasuk dalam organisme ini adalah virus, bakteri, protozoa, jamur, tanaman parasit, predator dan ikan.

7. Pengendalian secara kimiawi

Adalah cara pengendalian vektor penyakit dengan menggunakan pestisida, baik berupa racun, penolak (repellen) maupun hormon pengatur pertumbuhan

8. Pembinaan Masyarakat

Adalah upaya intervensi terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat agar sadar, mau, dan mampu mengendalikan vektor penyakit sehingga resiko kesehatan yang ditimbulkan oleh vektor penyakit dapat ditekan serendah-rendahnya. Pembinaan masyarakat disini termasuk pembinaan terhadap dunia usaha yang menyelenggarakan pengendalian vektor penyakit baik dalam bentuk bimbingan maupun pelatihan.

9. Penunjang

  1. Pengembangan pedoman, standar dan persyaratan kriteria pedoman dibidang pengendalian penyakit
  2. Kemitraan yaitu kerjasama antara berbagai institusi yang bekerja atas dasar prinsip kesetaraan, keterbukaan, saling menguntungkan secara efektif dan efisien dalam pengendalian vektor penyakit dengan kondisi dan kemampuan masing-masing institusi.
  3. Sosialisasi pengendalian vektor penyakit yaitu menyebarluaskan informasi tentang pengendalian vektor penyakit sehingga terwujud kondisi sanitasi dan lingkungan yang tidak memberi peluang bagi perkembangbiakan penyakit serta dalam rangka terwujudnya masyarakat yang mandiri dalam pengendalian vektor penyakit
  4. Kajian pengendalian vektor penyakit adalah untuk memperoleh gambaran tentang kondisi kesehatan lingkungan di daerah endemis vektor penyakit, sebagai bahan untuk penyusunan rencana pengendalian vektor penyakit yang meliputi pengkajian cara-cara dan bahan yang tepat guna yang terdapat di masyarakat setempat.
  5. Pelatihan bagi pelaksana maupun perusahaan jasa pengendalian vektor penyakit